Anak-anak, Ibu-ibu, dan Mahasiswa UPI Tampil Bersama Lestarikan Goong Renteng

MEDIAKUNINGAN.COM — Pada Minggu (24/5), tim dosen Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) yang diketuai Dr. Abizar Algifari Saiful, S.Pd., M.Sn. melaksanakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Berbasis Kepakaran Bidang Ilmu di Desa Sukamulya, Kecamatan Cigugur, Kabupaten Kuningan. Kegiatan ini diselenggarakan di bawah naungan Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) UPI dan menyasar Kelompok Kesenian Goong Renteng Panggugah Manah, warisan budaya takbenda yang telah hidup sejak akhir abad ke-18.

Kegiatan bertajuk “Revitalisasi Kesenian Goong Renteng Panggugah Manah melalui Pendampingan Regenerasi dan Dokumentasi Berbasis Komunitas di Kabupaten Kuningan” ini didanai melalui skema PKM Berbasis Kepakaran Bidang Ilmu DPPM UPI Tahun Anggaran 2026 dan menjadi langkah konkret universitas dalam mendukung pelestarian seni tradisi Sunda. Tim pengabdian melibatkan dosen dari Program Studi Musik UPI bersama lima mahasiswa yang berperan sebagai asisten lapangan.

Kegiatan pengabdian dirancang dengan tiga fokus utama yang dilaksanakan secara berurutan. Pertama, dokumentasi karya-karya gending Goong Renteng yang dimulai sejak pagi hari, pukul 08.00 WIB. Tim merekam repertoar gending bersama para maestro menggunakan perangkat audio digital dan kamera video resolusi tinggi. Setiap gending direkam beserta wawancara kontekstual mengenai nama, makna filosofis, fungsi sosial, dan teknik permainan.

Kedua, pelatihan kolaboratif antara mahasiswa Program Studi Musik UPI dengan para seniman Goong Renteng. Berbeda dengan model pelatihan satu arah, sesi ini dirancang sebagai pertukaran pengetahuan dua arah. Maestro mengajarkan teknik permainan tradisional, sementara mahasiswa berbagi pendekatan notasi musik dan analisis musikologis.

Ketiga, penampilan hasil regenerasi yang menghadirkan tiga kelompok pewaris secara bergantian: anak-anak Desa Sukamulya, ibu-ibu Desa Sukamulya, dan mahasiswa musik UPI. Penampilan ini disaksikan oleh warga desa, aparat pemerintahan, dan keluarga peserta dalam suasana semi-festival.

Dalam sambutannya, Dr. Abizar menegaskan bahwa pelestarian seni tradisi tidak cukup dilakukan dengan kata-kata. “Pelestarian seni tradisi harus dilakukan dengan tindakan nyata — dengan duduk bersama para maestro, mendengarkan setiap karyanya, dan yang paling penting, memastikan bahwa generasi muda mau dan mampu meneruskannya,” ujarnya di hadapan ratusan warga yang memadati halaman pertunjukan.

Ketua Kelompok Kesenian Goong Renteng Panggugah Manah, Bapak Sahri Sudarta, menyambut antusias kehadiran tim UPI. Menurutnya, kesenian yang ia pimpin selama ini menghadapi tantangan regenerasi yang serius karena sebagian besar anggota aktif sudah berusia lanjut. “Kami sangat bersyukur ada perhatian dari kampus. Goong Renteng ini bukan sekadar alat musik, tetapi pusaka yang harus diwariskan. Kalau tidak ada yang melanjutkan, suara Panggugah Manah bisa hilang dari Sukamulya,” tuturnya.

Lurah Sukamulya, Juhaendi, S.E., dalam sambutannya menyampaikan apresiasi kepada UPI dan menyatakan dukungan penuh Pemerintah Desa terhadap pelestarian kesenian khas Sukamulya tersebut. Ia berharap kerja sama dengan UPI dapat berlanjut dalam jangka panjang dan menjadi model pemberdayaan budaya bagi desa-desa lain di Kabupaten Kuningan.

Momen paling membahagiakan terjadi pada sesi penampilan hasil regenerasi. Kelompok anak-anak tampil pertama membawakan gending dasar Goong Renteng dengan wajah berseri-seri. Disusul kelompok ibu-ibu yang menampilkan gending dengan teknik yang lebih kompleks. Penampilan ditutup oleh mahasiswa musik UPI yang menyajikan hasil kolaborasi mereka dengan para maestro pada sesi pelatihan beberapa jam sebelumnya.

Penampilan tiga generasi pewaris ini menjadi simbol bahwa estafet pelestarian Goong Renteng Panggugah Manah sedang berlangsung. Nama Panggugah Manah sendiri memiliki makna filosofis sebagai “pembangkit hati” — sebuah nama yang dianggap mewakili kekuatan bunyi instrumen ini yang konon mampu menyentuh sanubari pendengarnya.

Dr. Abizar menjelaskan bahwa kegiatan ini selaras dengan agenda pembangunan nasional dan global. Dari sisi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), kegiatan ini mendukung SDGs 4 tentang Pendidikan Berkualitas dan SDGs 11 tentang pelestarian warisan budaya. Sementara dari sisi nasional, kegiatan ini sejalan dengan Asta Cita pemerintah, khususnya penguatan pembangunan kebudayaan berbasis kearifan lokal.

“Kami percaya kampus tidak boleh menjadi menara gading. Kepakaran akademis harus turun langsung ke komunitas, hidup bersama mereka, dan menghasilkan sesuatu yang nyata. Itulah makna Tri Dharma Perguruan Tinggi,” tegas Dr. Abizar yang juga merupakan peneliti aktif di bidang etnomusikologi.

Kegiatan ini merupakan tahap awal dari roadmap pengabdian multi-tahun yang telah dirancang tim UPI hingga tahun 2031. Tahun ini difokuskan pada dokumentasi dan pemberdayaan pemahaman nilai estetika musik tradisi. Pada tahun-tahun berikutnya, program akan berkembang ke penguatan apresiasi, pemberdayaan komunitas melalui teknologi digital, integrasi ke pendidikan formal, regenerasi musisi tradisi, hingga penguatan ekosistem musik tradisi Jawa Barat secara berkelanjutan.

Sejumlah luaran konkret direncanakan dari program ini, antara lain dokumentasi gending tradisional, modul pembelajaran ber-QR Code, buku etnografi musik ber-ISBN, video dokumenter yang akan diunggah ke kanal YouTube resmi, serta arsip digital terstruktur yang akan disimpan di repositori digital. Kegiatan diakhiri dengan penandatanganan berita acara oleh ketiga pihak — pelaksana UPI, ketua kelompok mitra, dan Lurah Sukamulya — sebagai simbol komitmen bersama untuk meneruskan upaya pelestarian.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *