Warga Kuningan Keberatan Tugu Bola Dunia Diubah Jadi Tugu Kuda, Soroti Jejak Sejarah Bupati Terdahulu

KUNINGAN – Perubahan Monumen Tugu Bola Dunia menjadi Tugu Kuda di Kabupaten Kuningan menuai keberatan dari sebagian masyarakat. Warga menilai, perubahan tersebut bukan sekadar mengganti bentuk sebuah monumen, tetapi juga menyangkut keberadaan simbol yang memiliki nilai sejarah bagi perjalanan Kabupaten Kuningan.

Tugu Bola Dunia diketahui merupakan salah satu monumen yang dibangun pada masa kepemimpinan bupati terdahulu. Keberadaannya kemudian menjadi bagian dari wajah kawasan sekaligus penanda dari sebuah periode pemerintahan di Kabupaten Kuningan.

Kini, monumen tersebut telah berubah menjadi Tugu Kuda. Perubahan itu pun menimbulkan pertanyaan dan kekecewaan dari sebagian warga yang berharap Tugu Bola Dunia tetap dipertahankan sebagai bagian dari sejarah daerah.

Bagi masyarakat, persoalannya bukan karena mereka menolak kuda sebagai simbol Kabupaten Kuningan. Kuda memang telah lama dikenal sebagai salah satu simbol yang melekat dengan identitas daerah.

Namun, warga menilai simbol daerah tidak seharusnya harus menggantikan atau menghilangkan simbol lain yang memiliki nilai historis.

Sebagian warga berpandangan bahwa setiap periode kepemimpinan memiliki karya dan peninggalan yang semestinya tetap dihargai sebagai bagian dari perjalanan sejarah daerah.

Tugu Bola Dunia dipandang sebagai salah satu peninggalan yang merepresentasikan masa kepemimpinan bupati terdahulu. Karena itu, perubahan fisiknya menjadi Tugu Kuda dianggap oleh sebagian masyarakat sebagai sesuatu yang patut dipertanyakan, terutama dari sisi pelestarian sejarah.

Masyarakat berharap pembangunan identitas baru Kabupaten Kuningan tetap memberikan ruang bagi peninggalan sejarah yang sudah ada.

Menurut warga, memperkuat simbol kuda sebagai identitas Kuningan sebenarnya tetap dapat dilakukan tanpa harus menghilangkan seluruh jejak simbol yang telah lebih dahulu hadir.

Kuda boleh menjadi simbol yang diperkuat untuk menggambarkan identitas Kuningan saat ini, tetapi Tugu Bola Dunia juga memiliki cerita tentang masa lalu yang tidak semestinya dilupakan.

Sementara itu, Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (DPUTR) Kabupaten Kuningan sebelumnya menegaskan bahwa perubahan tersebut merupakan bagian dari visi untuk memperkuat simbol Kabupaten Kuningan.

Penggunaan figur kuda dipandang memiliki keterkaitan dengan identitas dan sejarah Kabupaten Kuningan. Karena itu, keberadaan Tugu Kuda diharapkan dapat menjadi representasi simbol daerah yang lebih kuat.

Pandangan tersebut menunjukkan adanya tujuan pemerintah dalam menghadirkan identitas visual baru di ruang publik.

Namun, di tengah tujuan tersebut, muncul persoalan lain yang dirasakan masyarakat, yakni bagaimana keberadaan simbol baru tersebut tetap dapat berjalan beriringan dengan penghormatan terhadap sejarah.

Perubahan Tugu Bola Dunia menjadi Tugu Kuda kini telah terjadi. Persoalan yang muncul bukan lagi mengenai apakah perubahan tersebut akan dilakukan, melainkan bagaimana masyarakat dapat memahami perubahan tersebut dan bagaimana sejarah dari monumen sebelumnya tetap dihargai.

Bagi sebagian warga, sebuah monumen di ruang publik tidak hanya memiliki fungsi estetika. Di balik bentuknya terdapat cerita mengenai siapa yang membangun, kapan dibangun, serta periode pemerintahan yang melatarbelakanginya.

Karena itu, masyarakat berharap pemerintah Kabupaten Kuningan dapat memberikan penjelasan yang terbuka mengenai perubahan tersebut, termasuk bagaimana sejarah Tugu Bola Dunia akan tetap didokumentasikan dan dikenang.

Jangan sampai perubahan simbol daerah justru menimbulkan kesan bahwa sejarah dari kepemimpinan sebelumnya ikut dihapus.

Pada akhirnya, penguatan identitas Kabupaten Kuningan dan pelestarian sejarah sebenarnya tidak harus dipertentangkan.

Tugu Kuda dapat menjadi simbol Kuningan untuk masa kini dan masa depan, sementara sejarah Tugu Bola Dunia tetap dapat ditempatkan sebagai bagian dari perjalanan masa lalu Kabupaten Kuningan.

Sebab, membangun wajah baru sebuah daerah bukan berarti harus menghilangkan seluruh jejak yang pernah menjadi bagian dari sejarahnya.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *