Siswa di Kuningan Marak Live TikTok Saat Jam Pelajaran, Siapa yang Harus Bertanggung Jawab?

Mediakuningan.com – OPINI – Media sosial kini menjadi bagian yang sulit dipisahkan dari kehidupan pelajar. TikTok, khususnya, tidak hanya menjadi tempat mencari hiburan, tetapi juga ruang bagi anak muda untuk berkomunikasi, berekspresi, dan membuat berbagai konten.

Namun, ketika aktivitas tersebut dilakukan saat jam pelajaran berlangsung, persoalannya menjadi berbeda.

Read More

Berdasarkan pantauan Mediakuningan.com, fenomena siswa yang melakukan live TikTok di lingkungan sekolah mulai terlihat. Aktivitas tersebut dilakukan di sejumlah titik di lingkungan sekolah, termasuk di ruang kelas, bahkan ketika seharusnya siswa mengikuti kegiatan pembelajaran.

Kamera ponsel menyala. Siaran langsung berlangsung. Komentar penonton dibaca dan dibalas. Sementara di sisi lain, waktu yang seharusnya digunakan untuk mengikuti pelajaran justru tersita untuk aktivitas di media sosial.

Pertanyaannya kemudian sederhana, tetapi penting untuk dijawab:

Apakah ini hanya persoalan siswa yang menggunakan ponsel, atau ada persoalan yang lebih besar mengenai kedisiplinan dan pengawasan di lingkungan sekolah?

Ketika Ruang Kelas Berubah Menjadi Ruang Konten

Ruang kelas memiliki fungsi utama sebagai tempat berlangsungnya proses pembelajaran.

Tentu, tidak ada yang salah dengan siswa menggunakan TikTok. Membuat konten, berkreasi, atau melakukan siaran langsung merupakan bagian dari perkembangan teknologi dan budaya digital yang tidak mungkin begitu saja dihilangkan.

Yang menjadi persoalan adalah waktu dan tempat penggunaannya.

Ketika live TikTok dilakukan pada jam pelajaran, perhatian siswa berpotensi terbagi. Interaksi dengan penonton, membaca komentar, mengejar jumlah penonton, hingga membuat suasana live menarik dapat mengalihkan fokus dari proses belajar.

Lebih jauh, aktivitas live di ruang kelas juga dapat melibatkan orang lain yang berada di dalamnya. Guru maupun siswa lain bisa saja ikut terekam atau terdengar dalam siaran tanpa menyadarinya.

Di sinilah persoalan etika dan privasi juga perlu diperhatikan.

Siswa perlu memahami bahwa tidak semua hal yang terjadi di sekolah pantas dijadikan konten dan disiarkan kepada publik.

Jangan Hanya Menyalahkan Siswa

Meski demikian, fenomena ini tidak seharusnya hanya dilihat sebagai kesalahan siswa.

Pelajar adalah bagian dari generasi yang tumbuh bersama teknologi. Ponsel dan media sosial sudah menjadi bagian dari keseharian mereka.

Karena itu, pendekatannya tidak cukup hanya dengan mengatakan, “Jangan main TikTok saat sekolah.”

Yang lebih penting adalah membangun literasi digital dan kesadaran mengenai tanggung jawab.

Siswa perlu memahami bahwa menjadi kreator konten juga membutuhkan etika. Ada waktu untuk belajar, ada waktu untuk bermain, dan ada waktu untuk membuat konten.

Popularitas di media sosial tidak boleh membuat kewajiban sebagai pelajar menjadi nomor dua.

Lalu, Di Mana Peran Sekolah?

Di sinilah sekolah juga perlu melakukan evaluasi.

Jika sekolah memiliki aturan mengenai penggunaan telepon seluler selama jam pelajaran, maka aturan tersebut tentu harus disosialisasikan dan diterapkan secara konsisten.

Pengawasan bukan berarti sekolah harus memusuhi teknologi.

Justru sekolah perlu hadir untuk memastikan teknologi digunakan secara proporsional.

Jika ponsel diperbolehkan untuk mendukung kegiatan pembelajaran, maka batas penggunaannya harus jelas. Jika penggunaannya dilarang selama proses belajar, mekanisme pengawasan dan konsekuensinya juga perlu diketahui siswa.

Jangan sampai aturan hanya tertulis di atas kertas, sementara praktik di lapangan berjalan berbeda.

Fenomena live TikTok saat jam pelajaran semestinya menjadi bahan evaluasi bersama bagi pihak sekolah.

Orang Tua Juga Punya Peran

Persoalan ini juga tidak berhenti di pagar sekolah.

Orang tua memiliki peran penting dalam mengawasi bagaimana anak menggunakan gawai dan media sosial.

Pendampingan tidak harus selalu berupa larangan. Orang tua dapat mengajak anak berdiskusi mengenai apa yang mereka lakukan di media sosial, siapa yang menjadi penonton mereka, konten apa yang dibuat, serta risiko ketika sesuatu disiarkan secara publik.

Sebab, dunia digital tidak mengenal batas ruang kelas.

Apa yang dilakukan seorang siswa dalam hitungan detik dapat dilihat oleh banyak orang dan berpotensi direkam serta disebarluaskan kembali.

Jangan Sampai Mengejar Penonton, Kehilangan Pelajaran

Fenomena ini pada akhirnya mengingatkan kita pada satu hal sederhana: teknologi seharusnya menjadi alat, bukan mengambil alih tujuan utama pendidikan.

Tidak ada yang salah dengan menjadi kreatif di media sosial.

Tidak ada yang salah dengan membuat konten.

Tidak ada yang salah dengan menggunakan TikTok.

Tetapi ketika aktivitas tersebut dilakukan saat guru sedang mengajar dan siswa seharusnya mengikuti pelajaran, maka perlu ada batas yang tegas.

Siswa perlu belajar bertanggung jawab. Sekolah perlu memperkuat aturan dan pengawasan. Guru perlu mendapat dukungan dalam menjaga proses pembelajaran. Sementara orang tua perlu ikut mendampingi penggunaan gawai di luar sekolah.

Jadi, ketika muncul pertanyaan “Siapa yang harus bertanggung jawab?”, jawabannya bukan hanya siswa.

Tanggung jawab itu berada pada semua pihak yang terlibat dalam pendidikan.

Fenomena siswa di Kuningan yang melakukan live TikTok saat jam pelajaran sebaiknya tidak hanya menjadi tontonan atau bahan perbincangan di media sosial. Ini semestinya menjadi momentum untuk mengevaluasi kembali bagaimana sekolah, keluarga, dan siswa menghadapi perkembangan teknologi.

Sebab jangan sampai suatu hari nanti kita memiliki generasi yang sangat mahir membuat konten, tetapi justru kehilangan kesempatan untuk membangun pengetahuan, karakter, dan masa depan mereka.

TikTok boleh, berkarya silakan. Tetapi ketika bel sekolah berbunyi, jangan sampai mengejar penonton membuat pelajaran tertinggal.

Catatan: Tulisan ini merupakan artikel opini berdasarkan fenomena yang menjadi perhatian di lingkungan pendidikan dan tidak ditujukan untuk menuduh atau menggeneralisasi seluruh siswa maupun sekolah di Kabupaten Kuningan.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *